Kiadah Ilmu Bahasa Sering Memperumit Interpreter

jasa interpreter bahasa InggrisAhli kaidah bahasa menyebutkan, ada dua pendekatan untuk melakukan penerjemahan: kaidah (rule) dan siklus (cycle). Kaidah (biasa disebut dengan deduksi) sering diterapkan sebagai petunjuk untuk tindakan yang berlandaskan pada prinsip, tetapi hal ini ditanggapi skeptis praktisi penerjemahan. Kaidah hanya benar-benar berguna untuk situasi yang relatif sederhana. Karena diterapkan untuk kasus terjemahan yang umum dan biasanya sangat ideal, kaidah seringkali gagal dalam memperhitungkan kompleksitas kasus terjemahan yang sebenarnya. Bahkan, terkadang dua kaidah yang saling berlawanan rupa-rupanya secara bersamaan berlaku untuk satu situasi dan hanya memperumit proses “penerjemahan”.

Satu kaidah biasanya memecahkan satu segmen persoalan; dalam upaya memaksa sisanya agar pas dengan kaidah itu, diterapkan kaidah-kaidah lain dan kaidah pertama diabaikan. Oleh sebab itu, ujar Weick, dalam banyak hal, “siklus” lebih bermanfaat untuk penerjemah atau interpreter dalam menentukan tindakan yang optimum.

Ada banyak macam siklus, tetapi semuanya berhubungan dengan uji coba (trial and error) atau praktisi penerjemah menyebutnya induksi. Rumusan ini penting karena menjuruskan perhatian kita pada bentuk induksi yang terus berulang (siklis): Penerjemah keluar dari siklus masalah untuk mencari solusi, menentukan urutan tindakan yang mungkin di tempuh, kemudian kembali masuk ke siklus masalah dan mencobakan apa yang sudah dipelajari. Penerjemah menguji-coba sesuatu dan gagal, yang tampaknya mengembalikan penerjemah ke titik awal, kecuali bahwa Penerjemah kini mengetahui satu solusi yang tidak akan berhasil; ia mencoba sesuatu dan ternyata berhasil, jadi ia memasukkannya ke siklus agar kelak bisa dicoba lagi. Barangkali siklus terpenting bagi penerjemah adalah siklus yang dinamakan sebagai siklus tindakan-res pons-penyesuaian.

Siklus ini melibatkan umpan balik (“respons”) dari orang yang Anda kenal tindakan uji-coba dan ternyata berpengaruh, serta menghasilkan perubahan (“penyesuaian”) pada tindakan Anda. Siklus ini kerap di sebut pengambilan-keputusan bersama (collaborative de cision-making).  Ketika seorang penerjemah menjadi bagian dari tim besar untuk satu proyek terjemahan, maka sebaiknya penerjemah mendiskusikan hasil terjemahannya ke penerjemah lain. Hal ini sangat mudah diwujudkan karena dalam satu kantor jasa interpreter terdapat beberapa orang penerjemah. Setiap memiliki penafsirannya sendiri-sendiri, dan setiap kepala memiliki isi sendiri-sendiri sehingga pantas kalau dalam satu istilah dimaknai berbeda oleh beberapa penerjemah sekaligus.

Siklus ini melibatkan pembicaraan dengan orang lain secara perseorangan atau dalam kelompok-ke lompok kecil, menelepon mereka, mengirimi mereka pesan e-mail atau faks, mengajak mereka makan siang, menguji gagasan-gagasan, meminta mereka memeriksa pekerjaan Anda, dll. Setiap “siklus” interaktif tak hanya menghasilkan solusi baru yang mengilhami satu sama lain; siklus interaktif juga menyingkirkan siklus-siklus lama yang su dah tidak berguna, dari situasi yang rumit berangsur-angsur menjadi jelas dan menghasilkan keputusan yang pasti.

Tahap ketiga adalah penyimpanan (retention). Tahap ini sama dengan gagasan Peirce tentang kebiasaan. Namun, berbeda dengan Peirce, Weick tidak menganggap penyimpanan sebagai tujuan tetap dari seluruh proses. Agar individu atau kelompok dapat menanggapi situasi baru secara fleksibel, proses penentuan seleksi penyimpanan itu sendiri harus terus-menerus berlangsung dalam sebuah siklus. Setiap “penyimpanan” berkali-kali diko songkan dengan adanya “penentuan” yang baru. Memori, kata Weick, harus diperlakukan seperti hama; walaupun solusi lama yang tersimpan dalam memori memberikan kestabilan dan semacam predictability dalam sebuah bidang yang tidak pasti, kestabilan itu sering disebut “tradisi” atau “biasanya selalu begitu” juga dapat melumpuhkan kefleksibelan.

Sebagai interpreter bahasa Inggris, penulis tidak pernah berpikir soal kaidah ilmu bahasa ketika sedang dalam pekerjaan menerjemah secara simultan. Semua terucap secara spontan dan seolah-olah setiap kata yang keluar dari penerjemah setia dan sesuai dengan kaidah.